Sabtu, 23 Februari 2013

Pendekatan-pendekatan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia (BI)



            Dalam pembelajaran bahasa Indonesia dikenal beberapa pendekatan, seperti pendekatan tujuan, pendekatan struktural, pendekatan komunikatif, pendekatan pragmatik, dan pendekatan terpadu. Pendekatan merupakan teori, konsep, kepercayaan, paham, hukum, rumus, dan sebagainya yang diyakini kebenarannya, yang dipakai sebagai dasar memilih dan menentukan cara-cara (metode, teknik) pembelajaran, termasuk perencanaan KBM, pemberian tugas, penyusunan tes proses dan hasil belajar. Sehubungan dengan yang digariskan  dalam BSNP, bahwa belajar bahasa Indonesia adalah belajar berkomunikasi dan  pembelajaran bahasa Indonesia dilakukan secara tematik dan integratif (terpadu), maka pada bagian ini hanya dibicarakan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu.

2.1 Pendekatan Komunikatif
            Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam komunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa (Zuchdi, 1997). Tampak bahwa bahasa tidak hanya dipandang sebagai seperangkat kaidah, tetapi lebih luas lagi, yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi. Ini berarti, bahasa ditempatkan sesuai dengan fungsinya, yaitu fungsi komunikatif.
            Menurut Littelwood (1981), pendekatan komunikatif didasarkan pada pemi-kiran bahwa:
1)      pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang lebih luas tentang bahasa. Hal ini terutama menyebabkan orang melihat bahwa bahasa tidak terbatas pada tata bahasa dan kosakata, tetapi juga pada fungsi komu-nikasi bahasa.
2)      Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang luas dalam pembelajaran bahasa. Hal itu menimbulkan kesadaran bahwa mengajarkan bahasa, tidak cukup dengan memberikan kepada siswa bagaimana bentuk bahasa, tetapi siswa harus mampu mengembangkan cara-cara menerapkan bentuk-bentuk itu sesuai dengan fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi dalam situasi dan waktu yang tepat.
Sehubungan dengan pendapat itu, dia mengemukakan beberapa alternatif teknik pembelajaran bahasa. Dalam kegiatan belajar-mengajar, siswa diberi latihan, antara lain seperti di bawah ini.  
(1) Memberi informasi secara terbatas.
     Contoh:
a.       Mengidentifikasi gambar
Dua orang siswa ditugasi mengadakan percakapan tentang benda-benda yang terdapat dalam gambar yang disediakan oleh guru. Pertanyaan dapat mengenai warna, jumlah, bentuk, dan sebagainya.
b.      Menemukan pasangan yang cocok
Guru memberikan gambar kepada sekelompok siswa yang masing-masing mendapat sebuah gambar yang berbeda. Seorang siswa yang lain (di luar kelompok) diberi duplikat salah satu gambar yang telah dibagikan. Siswa ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada teman-temannya yang membawa gambar dengan tujuan untuk mengetahui indentifikasi atau cirri-ciri gambar yang mereka bawa. Dari hasil tanya jawab itu, siswa (pembawa duplikat) tersebut harus dapat menemukan siapa di antara teman-temannya itu yang membawa gambar yang cocok dengan duplikat yang dibawanya.
(2) Menemukan informasi tanpa dibatasi
     Contoh:
Menemukan perbedaan
Siswa A dan B masing-masing mempunyai sebuah gambar yang sama, kecuali beberapa bagian. Para siswa harus mendiskusikan gambar tersebut sehingga menemukan perbedaannya.
(3) Menyusun informasi
      Contoh:
      Siswa diminta membayangkan bahwa mereka akan mengadakan kemah selama
      tiga hari. Tiap anggota hanya boleh membawa barang kira-kira 11 kg. Kelompok-kelompok itu harus menentukan apa saja yang mereka bawa, dengan melihat barang yang patut dibawa, yang diberikan oleh guru, dan mempersiapkan pembelaan apabila mereka ditentang oleh kelompok lain.
Latihan-latihan tersebut merupakan latihan penggunaan bahasa dalam aktivitas komunikasi yang bersifat fungsional dalam kelas. Di samping itu, juga terdapat aktivitas komunikatif yang lain, yakni: aktivitas interaksi sosial, dan simulasi dalam bermain peran.
            Uraian di atas dapat diringkaskan sebagai berikut.
- Pendekatan Komunikatif
- Teori dasar    : Bahasa adalah alat komunikasi sosial.
- Artinya       : - bahasa itu bagi orang per orang adalah alat untuk mengungkapkan       
                          perasaan, pikiran, maksud, dan sebagainya kepada orang lain. Apa
                          yang ada pada dirinya (misalnya informasi) disampaikan kepada
                          orang lain agar orang lain pun memilikinya. Alat yang dipakai untuk
                          menyampaikan itu adalah bahasa.
                        - bahasa adalah salah satu alat yang dipakai orang untuk berkomunika-
                          si. Alat yang lain masih banyak, misalnya: kentongan, gerak anggota
                          tubuh, siulan, dan sebagainya.
- implikasinya dalam kelas:
                         - harus ada interaksi verbal, baik antara guru dan siswa maupun siswa
                           dan siswa.     
                         - guru tidak usah terlalu banyak berbicara, menjelaskan, atau menggu-
                            rui, tetapi menciptakan suasana yang baik agar siswa senang belajar
                            dan senang berbicara.
                         - guru mendorong pengembangan kemampuan berkomunikasi siswa-
                            nya. Lebih baik murid berani berbicara dan mengemukakan panda-
                            pat meskipun dengan bahasa yang kurang baik dan kurang benarda-
                            ripada diam karena takut salah. 
                         - hilangkan hambatan psikologis seperti takut salah, sungkan, malu,
                            dan sebagainya.
                         - beri tugas: masalah dan memecahkan masalah.
                           Contoh:
                         - berilah pelajaran yang bersifat bermain-main, kuis, teka-teki (seperti
                            yang sering Ada tonton di televisi).
                         - upayakan agar siswa mau berbicara dan menggunakan bahasa, apa
                            pun wujudnya. Bahasa Indonesia bercampur bahasa Bali pun tidak
                            apa-apa.
                         - suruh siswa mengajukan pertanyaan secara lisan. Bagi murid men-
                            jadi dua kelompok besar (deretan bangku): kelompok 1 bertanya,
                            kelompok 2 menjawab, begitu bergantian.
                         - kembangkan imajinasi anak dengan bahasa:
                                   - andaikata saya menjadi ….
                                   - buat rangkaian cerita dari kata jarum sampai doa.


2.2 Pendekatan Terpadu
            Nielsen (1989) menyatakan bahwa pendekatan terpadu adalah suatu pendekat-an pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan aspek-aspek intra dan inter-bidang studi, sehingga pembelajar memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh dan simultan dalam konteks yang bermakna. Karena itu, ukuran keterpaduan dalam pembelajaran terpadu adalah bahwa pembelajaran dilakukan secara sadar, sengaja, bertujuan, dan sistematis yang dapat membantu anak memahami topik tertentu atau ide umum dari berbagai sisi. Aktivitas pendidikan hendaknya menghilangkan jurang pemisah antara bidang-bidang studi dan agar memfokuskan arah pembelajaran kepada proses integratif, yang mengharuskan anak larut bila hendak mengorganisasi pengetahuan dan pengalaman mereka.
            Sementara itu, ahli pembelajaran terpadu seperti H.H. Jacobs dalam sebuah wawancara dengan Brandt (1991) mengatakan bahwa kebutuhan untuk melaksanakan pembelajaran terpadu didasari beberapa alasan, yaitu: (1) bahwa sementara jam belajar di sekolah tetap, ilmu pengetahuan terus berkembang, (2) ada kecenderungan anak tidak betah di sekolah karena apa yang harus dipelajari tidak sesuai dengan kebutuhannya, dan (3) sudah jelas tidak logis mengajarkan konsep-konsep secara terpisah-pisah sementara kehidupan anak tidak pernah menuntut pemisahan tersebut.
            Dari sejumlah teori pembelajaran terpadu yang ada, maka pengertiannya dapat diuraikan sebagai berikut: (1) pembelajaran terpadu beranjak dari suatu tema sebagai pusat perhatian yang digunakan untuk memahami gejala-gejala dan konsep lain, baik yang berasal dari bidang studi yang bersangkutan maupun dari bidang studi lain, (2) pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menghubung-kan berbagai bidang studi yang mencerminkan dunia nyata di sekeliling dan dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak, (3) pembelajaran terpadu merupakan suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan secara simultan, dan (4) pembelajaran terpadu merakit dan menghubungkan sejumlah konsep dalam beberapa bidang studi yang berbeda, dengan harapan anak akan belajar dengan lebih baik dan bermakna.
            Sebagai suatu pendekatan yang berorientasi proses, pembelajaran terpadu mempunyai ciri-ciri: (1) berpusat pada siswa, (2) memberikan pengalaman langsung pada anak, (3) pemisahan antarbidang studi tidak begitu jelas, (4) menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam satu proses pembelajaran, (5) bersifat luwes, dan (6) hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak (Zuchdi, 1997).
            Model pembelajaran terpadu yang paling dikenal adalah model terhubung (connected model), model jarring laba-laba (webbed model), dan model terpadu (integrated model). Pembelajaran terpadu antarbidang studi dapat dilihat pada contoh di bawah ini.


IPA
1.      mengenal berbagai jenis
                                                binatang laut                                                  
                                          2.   membedakan air laut dan      
                                                air tawar                                     
    Bahasa Indonesia        3.   menerangkan ekosistem                  Matematika
                                                laut                                              
1. menyimak cerita                                                              1. menghitung luas laut    
    Nyi Roro Kidul                                                                    berdasarkan skala peta
2. menyusun  wacana                      Tema                           2. mendemonstrasikan
    tentang pencemaran                 Kelautan                            menghitung berat jenis
    laut                                                                                       air laut
3. bercerita tentang dar-                                                       3. menghitung persentase
    mawisata ke pantai                         IPS                                perbandingan daratan   
1.      menjelaskan fungsi laut          dan lautan
2.      membaca peta tentang
kedalaman laut
3.      menceritakan tentang
kekayaan laut



            Pendekatan terpadu dapat pula dilakukan dalam pembelajaran sastra dan bahasa. Pembelajaran terpadu dalam hal ini adalah upaya pemaduan aspek-aspek pengajaran sastra dan bahasa agar saling menunjang. Hal ini patut dicermati, karena ada asumsi bahwa pencipta sastra yang menguasai bahasa dengan baik akan lebih sukses dibanding yang penguasaan bahasanya setengah-setengah. Demikian pula orang yang belajar bahasa, apabila menguasai sastra – bahasa mereka akan semakin halus dan enak didengar, oleh karena dalam setiap aktivitas berbahasa, secara tak sadar manusia telah memerankan sastra dalam komunikasi.
            Proses pembelajaran terpadu menghendaki antara materi sastra dan bahasa memiliki kedudukan sejajar. Keduanya saling menunjang dan berhubungan secara simbiosis mutualistis. Yang penting, pengajaran sastra menghendaki situasi pengajaran yang kreatif. Pendekatan delivery system, yang menghendaki sekolah sebagai agen menghafal, sebaiknya diubah menjadi agen mencipta, mencerna, menghayati seluruh persoalan hidup dan berusaha memecahkannya. Itulah sebabnya, diperlukan pengajar yang benar-benar konstruktivistik. Pengajar semacam ini akan mampu memadukan aspek bahasa dan sastra secara arif. Pengajar yang konstruktivistik akan melakukan berbagai hal, antara lain: (1) mampu mengaitkan materi pengajaran sastra dengan peserta didik, (2) menilai dan memandang proses kompetensi dari sudut pandang peserta didik, dan (3) mampu memadukan aspek-aspek pengajaran bahasa dan tanpa mengurangi hak masing-masing materi (Endraswara, 2003).
            Dari ketiga ciri di atas, yang paling relevan dengan pendekatan terpadu adalah cirri yang ketiga. Di sini seorang pengajar dapat menerapkan sistem respon dan analisis. Sistem pengajaran semacam ini menandai pengajar dan peserta didik sejajar. Keduanya dapat saling memberi dan menerima dalam belajar bahasa dan sastra. Dengan demikian, tak ada manfaat yang signifikan jika pengajaran sastra dipaksakan harus dipisah-pisah dengan materi bahasa. Keduanya seharusnya seimbang guna membangun kreativitas. Kompetensi sastra setiap peserta didik akan terbangun melalui materi bahasa. Pendek kata, kompetensi yang perlu dimiliki melalui pendekatan ini adalah: (1) peserta didik dapat belajar sastra sekaligus belajar bahasa, karena keduanya saling terkait, (2) dapat memahami hubungan yang saling menguntungkan antara materi bahasa dan sastra, terutama untuk meningkatkan kemampuan bersastra, dan (3) terampil menerapkan bahasa yang indah ke dalam sastra, dan memanfaatkan sastra sebagai landasan awal belajar bahasa.     
            Uraian di atas dapat diringkaskan sebagai berikut.
- Pendekatan Terpadu
- Teori dasar    : - bahasa itu merupakan satuan yang utuh, bukan merupakan serpihan
                            serpihan yang tersebar.
- Artinya          : - secara struktur bahasa memang bisa terbagi-bagi dalam fonologi,
                            morfologi, sintaksis, dan kosakata. Akan tetapi, dalam proses bel-
                            ajar-mengajar bagian-bagian itu harus dipadukan.
                          - pembelajar bahasa harus menguasai keempat keterampilan berbaha-
                             sa, yaitu mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis. Dalam 
                             pembelajaran bahasa, minimal dua keterampilan dari empat kete-
                             rampilan itu harus dipadukan dalam satu kegiatan berturutan.
                          - berbahasa selalu terpaut dengan tema tertentu, ada “sesuatu” yang
                             dibicarakan dalam berbahasa. Di sekolah “sesuatu” itu bisa terca-
                             kup dalam bidang studi Matematika, IPA, IPS, dan sebagainya.
                             Dalam pembelajaran bahasa, berbagai mata pelajaran ini bisa dipa-
                             dukan dengan segi-segi kebahasaan.
- Implikasinya dalam kelas:
1) Tema           : Teknologi
    Materi          : Cara Kerja Pompa Air
                          Dalam pelajaran IPA, guru dapat menjelaskan cara kerja pompa air.
                          Ini bisa dilanjutkan dengan diskusi tentang cara kerja tersebut. Untuk
                          kepentingan IPA, guru dapat menilai isi diskusi, sedangkan bidang
                          studi bahasa Indonesia menilai cara-cara berdiskusi.

2)  Siswa disuruh menonton televise tentang cerita anak-anak.Dalam dengar – lihat itu siswa ditugasi mencatat jalannya cerita. Di kelas siswa harus menyerahkan tulisannya, diteruskan dengan kegiatan siswa untuk menceritakan secara lisan tanpa teks, tanya jawab tentang cerita, tokoh-tokoh, kosakata, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Terbaru